Permasalahan sensor di Indonesia terkadang bikin garuk-garuk kepala sangking anehnya. Bagaimana tidak, dengan mudahnya layanan GIF Whatsapp diblokir karena disebut menyediakan konten porno. Layanan konten GIF tersebut padahal tidak menampilkan konten “porno” secara “tiba-tiba” di tampilan chat Whatsapp, tetapi pengguna harus membuka aplikasi Whatsapp terlebih dahulu, kemudian masuk ke menu Emoticon → pilih GIF, dan kemudian di menu search mengetik sex, porn atau dengan keyword sejenisnya. Pengguna pun akan mendapatkan “gambar bergerak” berformat GIF yang mengarah ke perilaku seks sesuai keinginan.

Kalau mau dibandingkan, dengan membuka browser anda, di smartphone ataupun di komputer, kemudian buka halaman google atau mesin pencari lainnya, dan ketik keyword sex, porn atau sejenisnya. Di sana anda akan mendapatkan konten yang lebih banyak dan lebih vulgar dibandingkan konten dari Whatsapp. Bukan maksudnya mencari mana yang lebih banyak menampilkan konten porno atau tidak, tetapi bila masing-masing memiliki konten porno apakah semua mesin pencari harus di blokir atau dibatasi? Atau hanya akan tebang pilih seperti yang sudah-sudah? Apakah pemblokiran efektif mengatasi permasalahan ini?

Permasalahannya adalah, di sini pengguna yang harus mencari atau mengetik keyword terlebih dahulu. Bukan kontennya yang secara tiba-tiba “menganggu mata“. Sehingga dapat dikatakan pengguna sudah mengetahui apa yang ingin dilihatnya. Pengguna sudah memiliki niat dari awal untuk melihat atau menyebarkan konten tersebut. Sehingga mau diblokir atau tidak, hasilnya tidak akan berbeda jauh. Kenapa? Karena pemblokiran yang dilakukan pemerintah itu cukup mudah untuk ditembus. Dapat dengan menggunakan VPN Opera, proxy, atau berbagai aplikasi gratisan ataupun berbayar lainnya. Sehingga apakah pemblokiran itu efektif?

Anak memang sebaiknya dijauhkan dari konten porno, tetapi bukan hanya itu saja. Anak harus dijauhkan dari konten kekerasan atau dewasa lainnya. Orangtua cenderung lupa bahwa selain pornografi, konten kekerasan atau dewasa lainnya bisa juga merusak anak. Satu-satunya cara terbaik adalah dengan mengawasi anak ketika menggunakan smartphone atau komputer, atau memasang aplikasi yang yang dapat menutup akses untuk konten-konten dewasa lainnya.

Anda pasti tahu film Tom & Jerry, film mengenai seekor kucing dan tikus yang selalu bertengkar. Menurut anda, anak usia berapa tahun yang sebaiknya menonton film tersebut?

Common Sense Media adalah salah satu lembaga nonprofit yang membahas batasan usia yang pantas untuk mengakses atau menonton suatu konten. Menurut Common Sense Media, usia anak yang pantas menonton Tom & Jerry adalah anak yang berusia 6 tahun. Hal itu dikarenakan aktifitas kekerasan yang selalu ditampilkan. Untuk menonton Tom & Jerry saja dibatasi di usia 6 tahun, bagaimana pula dengan batasan umur anak untuk menonton film tentang superheroes seperti Power Rangers, Batman, Superman? Apa anak anda sudah menonton tayangan yang sesuai usianya?

Sebenarnya tidak selamanya pemblokiran itu sia-sia. Hanya saja terlalu sedikit pengaruhnya. Pemblokiran juga bukan satu-satunya cara. Orangtua harus bisa memberikan batasan dan pendidikan bagaimana cara berinternet secara sehat. Selain itu anak juga bisa diberi batasan-batasan dalam penggunaan smartphone, seperti memasang aplikasi “child safe” di smartphone atau komputer, mengawasi dan membimbing ketika anak menggunakan smartphone. Harapannya anak dapat mengerti batasan yang boleh diakses sesuai umurnya. Sehingga kegiatan mereka dalam berinternet dapat selalu dalam kategori positif.

Bila anda memiliki pemikiran yang berbeda mengenai pemblokiran yang dilakukan pemerintah, ayo berdiskusi di kolom komentar.